Cerpenku
Mengukir Lembayung Senja Di Ibu Kota
Jantung Linggar berdetak lebih cepat
dari biasanya, tangannya juga sedikit dingin saat pertama kali membuka pintu
mobil. Perasaan salah tingkah dan tidak karuan bercampur aduk, namun ia
berusaha untuk tetap bersikap tenang.
“Assalamu’alaikum,” sapanya saat
membuka pintu Avanza Veloz berwarna putih itu.
“Waalaikumussalam,” sosok dibelakang
stir menjawab sambil tersenyum. Linggar menutup pintu mobil.
“Sayang, seatbeltnya dipake ya,” sekali lagi pria dibelakang stir itu
bersuara.
Linggar tersenyum salah tingkah dan
langsung memasang seatbelt dibadannya.
“Saya Linggar,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, disambut pria disebelahnya
sambil tersenyum.
“iya saya tau, kitakan sering chat
berdua, aku Damar.”
Mobil mulai melaju membelah padatnya
jalan Ibu Kota Jakarta.
Sesekali Damar menoleh kearah Linggar
sambil tangannya tak lepas dari stir mobil. Ia tersenyum. Dan mulai bergurau
untuuk mencairkan suasana.
Linggar yang masih tetap salah tingkah
terus memandangi jalan didepannya.
“Kamu sudah melihat saya kan? Saya
sudah tua, gendut dan jelek, inilah saya,” ucap Linggar sambil menoleh Damar.
“Lalu apa masalahnya?,” jawab Damar
sambil menoleh kepada Linggar. “Aku sudah bilang dari awal aku tidak mempermasalahkan
itu semua.”
“Kamu lebih pantas jadi adikku,” sahut
Linggar.
“Aku gak mau jadi adikmu, aku gak mau membohongi perasaanku sendiri,”
Damar berkata pelan, sambil matanya tak lepas dari padatnya jalan raya.
“Macet,” sesekali ia bergumam melihat jalan raya yang padat. Jalan diibu kota
selalu macet disaat jam pulang kantor.
“Tapi kamu masih muda, kamu bisa
mendapatkan yang lebih muda dan lebih baik dari pada saya, “ Linggar menoleh.
Disaat yang sama Damar juga sedang
menoleh kepadanya. Beberapa detik kedua mata bertemu dan Linggar lebih dulu
mengalihkan pandangan nya.
“Konsentrasi nyetirnya, lihat jalanan
didepan,” perempuan hitam manis itu
mengingatkan Damar. Damar meraih tangan Linggar, “Aku suka kamu, aku sayang
kamu,” dikecupnya tangan Linggar. Segera perempuan itu menarik tangannya dari
genggaman Damar.
“Terserah kamu ajalah,” kata Linggar
sambil matanya menoleh kepada Damar.
Petang ini adalah pertama kalinya
mereka berdua bertemu setelah selama ini hanya berkomunikasi via handphone.
Perkenalan mereka diawali dari sebuah media sosial dan berlanjut dengan
pertemuan sore ini.
*
Dua
hari berlalu tanpa ada komunikasi lanjutan. Linggar tenggelam dalam
kesibukannya mengikuti kegiatan yang diadakan lembaga tempatnya bekerja. Whatsapp dari Damar masuk tepat pukul 21.00
WIB.
“Sayang
jangan lupa makan, dan minum obat, jaga kesehatan kamu. Aku gak mau kamu sakit,” sebuah pesan dari
Damar. Lelaki yang sudah sebulan ini menghiasi hari – harinya. Mewarnai mimpi
malamnya.
“Iya,
terimakasih sudah mengingatkan,” balas Linggar.
Sesaat kemudian sebuah pesan masuk, “Kembali kasih”.
Sejak
pertemuan pertama mereka kemarin, Linggar tidak pernah dapat melupakan Damar.
Sosok lelaki muda yang usianya terpaut 4
tahun dibawah Linggar, seakan selalu berada dalam ingatannya.
Pertemuan
pertama itu sangat berkesan dihati Linggar. Damar mengantarkannya jalan-jalan
hingga ke Kota Tua. Menikmati malam bersamanya. Seakan malam cepat sekali
berlalu.
Linggar
yang sudah 5 tahun menutup diri dari lelaki, sejak perpisahan dengan Rudi
mantan suaminya, hari itu kembali menemukan sesuatu yang hilang .
Meski
terkadang rasa minder masih menghinggapi dirinya. Ia merasa tak layak bersama
Damar yang masih muda dan tampan.
Sementara
usianya kini sudah 40 tahun. Hari – harinya disibukkan dengan pekerjaan dan
ibadah. Trauma dengan masalalu membuat ia menutup pintu hatinya rapat – rapat.
Anak – anak menjadi prioritas hidupnya. Ia menjadi wanita yang gila kerja.
Waktunya lebih banyak ia habiskan dengan pekerjaan. Sampai sahabat karibnya
menjuluki ia gila kerja.
Dia
tidak pernah peduli.
“Berilah
waktu untuk dirimu sendiri, Nggar,” kata Susi sahabat dan rekan kerjanya.
“Kau
perlu waktu untuk dirimu, lihatlah kamu sekarang, kau terlalu ngoyo kerja.”
Susi
lah satu – satunya sahabat yang peduli dengan Linggar. Ia tahu benar keadaan
Linggar yang selalu terlihat ceria, namun banyak menutup diri untuk masalah
pribadinya.
*
Hari
ke 4, telepon Linggar berbunyi, sebuah panggilan video dari aplikasi
Whatsappnya masuk. Dengan enggan ia menjawab panggilan yang masuk.
“Sebuah
wajah yang mulai akrab dengan hari – harinya muncul dilayar handphonenya.
Linggar tersenyum. Damar.
“Kamu
lagi sakit? Obatmu gak kamu minum ya, kamu jangan bandel. Sekarang minum
obatnya ya sayang,” Damar langsung nyerocos.
Linggar
tersenyum.
“Aku
hanya masuk angin, aku gak apa –
apa,” jawab Linggar.
“Wajah
kamu sampai pucat begitu kok bisa bilang enggak
apa – apa sih,” Damar tampak sangat mengkhawatirkannya. Banyak hal yang
dibicarakan setelah itu antara mereka. Damar sedang dalam perjalanan menuju
rumahnya.
“konsentrasi,
jangan sambil telepon kalau bawa mobil,” Linggar mengingatkan pria yang
disayangnya itu.
“Iya
sayang,” jawab Damar.
Linggar
lupa, ia baru saja menulis di status Whatsappnya, bahwa dia sedang tidak enak
badan, sedang tidak sehat. Damar tentu membaca status itu. Segera setelah
mereka selesai telepon, langsung ia menghapus status itu, dia tidak ingin
lelaki yang disayangnya mengkhawatirkan keadaannya.
Handphone
Linggar kembali berbunyi. Sebuah panggilan masuk, dari Susi.
“Ling,
kamu sakit ya. Kamu sih suka gak nurut, suka lalai minum obat. Kan jadi sakit,
gimana kalau anak – anakmu tahu bundanya disebrang sana sakit,’’ Susi langsung
nyerocos saat ia menjawab telepon.
“Iya….iya,
Susi, kamu bawel ah. Aku hanya masuk angin kok,” jawab Linggar dengan bermalas-
malasan.
Sudah setahun terakhir Linggar mengidap
Diabetes, penyakit ini diturunkan dari Almarhumah ibunya. Penyakit ini juga
sudah komplikasi dengan kolesterol dan darah tinggi. Selain itu dia juga sering
mengalami kram perut, penyakit ini yang terkadang dirasanya sangat menyiksa.
Dokter
sudah memintanya untuk menjaga pola hidup dan berolah raga. Linggar lebih
banyak mengabaikan peringatan dokter. Padahal dokter sudah katakan Ginjal, hati
dan lambungnya dalam keadaan beresiko tinggi karena setiap hari mengkonsumsi
obat – obatan. Ya…. Linggar harus mengkonsumsi obat – obatan seumur hidupnya.
Tapi
ia tidak pernah mengeluh. Dihadapan semua orang, dia selalu ceria, tersenyum.
Dia tidak ingin membuat orang kwatir ataupun iba dengan kondisinya. Meskipun ia
sering menangis dibelakang mereka semua.
*
Linggar
menangis sesenggukan, sedu sedannya terdengar ia tumpahkan semua diatas
sejadah. Saat seperti ini hilang sudah Linggar yang selalu ceria dan terlihat
tegar. Malam sepi selalu dihabiskannya diatas sajadah, dalam solat tahajudnya.
Sepinya
hati, perjuangan yang ia hadapi seorang diri membesarkan anak – anaknya selama
ini tidak pernah ia keluhkan kepada siapapun, hanya Allah yang tahu.
“Ya
Allah, Engkau Maha Pengasih, Maha Mengetahui, aku pasrahkan hudupku padaMU. KAU
berikan aku cobaan ini, aku percaya semua ini bukti sayangnya Allah kepadaku,” lirih
suara Linggar, diantara airmatanya yang terus mengalir.
“Allah,
aku tak pernah merasa penyakit ini sebagai beban, aku iklas dengan semua ini.
Tapi ya Allah, ampuni aku, aku hanya meminta izinkan aku untuk membesarkan
anak- anakku. Beri aku kesempatan ya Allah.”
Wajah
Iton, Nurul dan Thoriq, anak – anaknya yang ditinggalnya dikampung halaman melintas
dalam ingatannya. 3 malaikat dalam hidupnya, yang menjadi penyemangatnya.
*
Layar
handphone Linggar menyala, sebuah pesan dari Damar masuk, “Apa kabar sayang,
kamu sudah minum obat? Jaga kesehatan. Aku sayang kamu,”
“Aku
baik – baik saja, terimaksih,” Linggar membalas pesan Damar dengan singkat.
“Aku juga sayang kamu,” ucap Linggar lirih hanya pada dirinya sendiri.
Linggar
menekan perutnya. Rasa kram dan sakit kembali dirasakan. Seharian dia hanya
terbaring menahan rasa sakit.
Menjelang
magrib, ia menyerah, dikuatkan dirinya, bangkit dari tempat tidur dan melangkah
menuju klinik 24 jam. Memeriksakan dirinya.
8
macam obat diberikan dokter, dan harus dihabiskan. ‘’Ya Allah, sampai kapan aku
harus bergantung pada obat – obatan ini,’’ Linggar berkata sendiri dalam hati.
Ia
melangkah, keluar dari klinik, dihempaskannya tubuhnya diatas kasur. Melempar
obat yang dibawanya kesudut kasur. Setetes air bening mengalir disudut matanya.
“Aku
harus kuat, aku pasti kuat,” Linggar bangkit, dan tidak membiarkan dirinya
larut dalam kesedihan. Ia melangkah kekamar mandi dan berwudhu, solat magrib,
dan lalu tertidur diatas sajadah.
*
Damar
mencium tangan Linggar, dan mengecup kening wanita yang disayangnya. Perlahan
mobil meluncur membelah padatnya ibu kota. Sore ini dia ingin menghabiskan
waktu bersama Linggar. Dia tahu wanita disampingnya sedang ada masalah, diamnya
membuat Damar penasaran, namun dia tidak ingin memaksa Linggar untuk bercerita.
Menit
– menit membosankan berlalu, dan Linggar tetap terdiam. Damar menyentuh nya,
matanya memandang penuh kekhawatiran.
“Kamu
kenapa, ada masalah apa? Jangan diam saja,” digenggamnya tangan Linggar.
“Aku
baik – baik saja,” tanpa mengalihkan pandangannya dari padatnya jalanan,
Linggar menjawab pertanyaan Damar.
“Kalau
kamu baik – baik saja, kenapa kamu diam aja.” Damar berusaha meyakinkan Linggar
bahwa dia siap menjaga dan melindungi, genggaman nya ditangan Linggar tidak
ingin dilepaskan.
“Aku
sayang kamu. Kenapa kamu masih ada rahasia. Apa yang membuat kamu khawatir.
Linggar
masih tenggelam dalam diamnya. Sesekali ia menoleh Damar, dan tatapan mereka
bertemu. Sekali lagi Damar mengecup keningnya.
“Aku
sayang kamu,” ucapnya.
“Aku
juga sayang kamu,”jawab Linggar. Tapi kau tak tau siapa aku. Aku perempuan ringkih dengan banyak masalah
kita tidak akan pernah bisa bersama, aku sadari itu. Batin Linggar
menjerit. Merintih.
“Waktuku
tidak lama lagi disini, aku akan segera pulang ke kampungku. Lalu kaupun akan
melupakan aku,” ucap Linggar.
Damar
menatapnya. “Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak akan pernah melupakan
kamu. Seperti kamu, aku juga akan merindukanmu,” Damar tersenyum.
Senyum
sejuk yang mendamaikan hati Linggar.
Senja
mulai menyelimuti Jakarta. Suara azan magrib bergema disepanjang jalan. Linggar
meyentuh tangan Damar yang tengah memegang stir mobil. Damar mengerti.
“Kita
cari masjid terdekat, sayang,” Linggar tersenyum menjawabnya.
Aku ingin kamu menjadi imamku, mas.
Selamanya. Bukan hanya hari ini saja. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Aku ingin
kamu selalu sehat dan kuat, Mas. Aku sayang kamu. Linggar ingin mengucapkan itu,
menyampaikan isi hatinya kepada Damar. Tapi hanya sebuah senyuman yang dapat ia
berikan kepada Damar.
Perlahan
mobil yang dikendarai Damar memasuki halaman masjid Istiqlal, masjid terbesar
di Ibukota, di Asia tenggara. Sudah lama Linggar ingin sholat di masjid ini.
Turun
dari mobil, Damar menggandeng tangan Linggar.
“Mari
sayang, kita wudhu dan solat,” ucapnya.
Linggar
mengangguk, tersenyum, melangkahkan kaki pasti, memasuki Istiqlal. Mereka
berpisah menuju tempat wudhu.
Usai
Solat, Damar sudah menunggunya di halaman masjid. Bersama mereka melangkah
menuju mobil.
Sesaat
sebelum mobil berjalan, damar menatap Linggar, dan menggenggam tangan wanita
yang dicintainya.
“Aku
sadar, kita belum lama bersama, waktu kita masih sangat singkat. Aku sayang
kamu. Dan aku tahu kamu belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. Tapi aku ingin
kamu tahu, aku juga bukan orang yang sehat seperti yang kamu lihat. Aku
mengidap penyakit Intraknial. Itulah
mengapa hingga usiaku sekarang aku belum menikah. Aku gak mau penyakitku ini
akan membuat orang yang aku sayangi susah,” Damar mulai bercerita.
“Aku
pernah menjalin hubungan beberapa kali dengan wanita, bahkan sempat hampir
menikah, tapi semua batal. Mereka meninggalkan aku, aku juga sempat trauma,
sampai aku bertemu denganmu.”
“Aku
gak bisa menjanjikan apapun untukmu. Aku hanya punya hati, aku gak punya harta.
Aku gak peduli kamu lebih tua dariku. Aku mencintaimu. Aku ingin terus
bersamamu. Aku sayang kamu, aku nyaman denganmu,’’ Damar menatap Linggar.
Linggar mencari sesuatu dimata pria ini. Sebuah kejujuran ada disitu. Dia
menemukannya.
Linggar
menarik nafas dalam, sangat dalam, dia biarkan Damar terus berbicara,
menceritakan tentang hidupnya, tentang isi hatinya. Damar melanjutkan
kalimatnya.
“Aku
tahu kamu juga mengidap penyakit. Bedanya aku dan kamu, kamu biarkan semua keluargamu
mengetahui penyakit yang kamu derita. Tapi aku tidak. Aku merahasiakan dari
orang – orang yang aku sayangi, karena aku gak mau buat mereka kecewa. Ibu ku
sendiri juga tidak mengetahui sakit yang aku idap selama ini. Aku gak mau buat
ibuku khawatir.”
Linggar,
menguatkan genggaman tangan Damar.
“Usiaku
mungkin gak selama orang lain, Mas. Orang hanya tahu aku menderita diabetes,
kolesterol dan hipertensi. Tapi, sebenarnya lebih dari itu,mas. Fungsi ginjalku
hanya tinggal 50 persen. Aku juga mengidap virus berbahaya yang sewaktu- waktu
dapat membunuhku, seumur hidup aku harus mengkonsumsi obat – obatan, Mas.”
“Anak
– anak semangat hidupku, demi mereka aku bertahan dengan kondisiku. Terkadang
aku juga ngedrop, tapi aku harus tetap kuat.Kondisi ku ini juga yang buat aku
menutup hatiku untuk laki - laki, Mas.”
“Aku
tahu Linggar, aku tahu. Beri aku kesempatan untuk bersamamu, izinkan aku
bersamamu. Aku akan menyayangimu dan menyayangi anak – anakmu sebagai anakku,“
Damar memotong kata – kata Linggar.
“Tapi,
Mas…..”
“ssst…”
Ia meletakkan telunjuknya dibibir Linggar. Ia tidak ingin Linggar berbicara
lebih panjang lagi.
“Mas,
kamu serius dengan kata – katamu?”
Damar
mengangguk, “ya Sayang, aku serius, apakah kamu masih ragu?’’
“Sejak
mengenal kamu, aku merasa seperti menemukan lagi sinar hidupku, ysng sudah lama
padam. Kamu selalu mengingatkan aku untuk sholat. Aku sudah lama meninggalkan
sholat, sekarang aku kembali menjalankannya, karena kamu yang selalu
mengingatkan aku,Linggar,”ucap Damar.
“Aku
juga sayang kamu, mas. Semoga kamu yang terakhir dalam hidupku, mas,” Linggar
menatap Damar.
“Aku
janji, sayang,” Damar menghidupkan mobil. Perlahan kendaraan mereka
meninggalkan halaman masjid Istiqlal. Meninggalkan senja yang telah mulai
berganti malam, semburat lembayungpun telah mulai memudar. Namun kedua insan
ini telah mengukir cinta mereka dilembayung senja.
Linggar
tersenyum, menatap Damar. Tangan mereka saling menggenggam.
Ya Allah, biarkan kami tetap bersama,
izinkan aku mencintainya karena MU ya Allah. Izinkan aku tetap bahagia disisa
usiaku. Aku tahu waktuku tak akan lama lagi ya Allah, Beri aku kesempatan menikmati kebahagiaanku
ini meski hanya sesaat, Engkau maha
mengetahui betapa aku menyayanginya. Izinkan kami saling menguatkan dalam
keterbatasan kami.
Komentar
Posting Komentar